Label

Tampilkan postingan dengan label NII AL-ZAYTUN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NII AL-ZAYTUN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Sebuah Proyek Misteri Pembangunan AL ZAYTUN

Banyak orang dan kalangan yang sama sekali tidak menyangka bila pondok pesantren Al-Zaytun yang termegah itu ternyata dibangun dan didirikan dengan modal awal hasil kejahatan serta hasil mendhalimi (menyengsarakan) banyak orang dengan mengatas-namakan agama dan gerakan NII (Negara Islam Indonesia) Kartosoewirjo, yang hingga saat inipun masih menimbulkan banyak korban. Hal yang faktual ini tetap saja dibantah oleh kalangan Al-Zaytun.

Misteri Al-Zaytun dan komunitasnya sangat dirasakan oleh penduduk sekitar Ma'had ini, seperti Desa Tanjung Kerta, Suka Slamet dan Mekar Jaya, antara lain dari sikap tertutup mereka. Juga, penjelasan yang terasa asing, diantaranya mereka mengatakan bahwa proyek Ma'had Al-Zaytun ini adalah proyek untuk Allah, sekaligus milik ABRI, dan untuk Madinah ke II.

Menjadi lebih misterius setelah beberapa orang warga dari penduduk sekitar yang diterima sebagai pengajar di Ma'had tersebut (lulusan Gontor), ternyata kemudian cenderung menarik diri dari komunitas asalnya, serta hilang tegur sapanya dengan masyarakat desa itu setelah bergabung dengan komunitas Ma'had ini. Dan warga pun mulai mencium aroma paham aneh dalam praktek ubudiyah di Ma'had ini, misalnya soal makmum masbuq yang tidak perlu lagi menyempurnakan (melengkapi) kekurangan jumlah rakaat yang ketinggalan, dengan alasan karena sudah ditanggung oleh Imam.

Sikap anti-sosial dan bahkan sangat menyebalkan serta dhalim, menurut penuturan sebagian warga desa Suka Slamet, ketika sawah milik Al-Zaytun yang tadinya disepakati boleh disewa-pakai oleh mantan pemiliknya, digarap dan bahkan ada yang hampir mendekati panen, tiba-tiba dengan alasan lokasi tersebut akan segera digunakan, tanpa mempertimbangkan jerih payah maupun kesepakatan sebelumnya, garapan warga tersebut dibuldozer oleh pihak Al-Zaytun tanpa perasaan sama sekali. Warga pun jadi sangat kecewa. "Ini katanya untuk Islam, tapi kok tega-tega amat ya, mereka ini orang Islam golongan apa ya?"

Meski berbagai fakta telah digulirkan tentang apa dan siapa serta bagaimana sebenarnya Al-Zaytun dengan AS Panji Gumilang, melalui mass media dan kemudian disusul dengan terbitnya karya tulis Al Chaidar tentang Al-Zaytun, AS Panji Gumilang alias Abu Toto tokoh sentral KW-9 (Komandemen Wilayah Sembilan) --salah satu sayap yang dianggap sesat dari gerakan DI atau NII oleh kalangan intern DI/NII sendiri--[8] ternyata masih banyak saja umat Islam yang terkecoh.

Lembaga-lembaga dakwah, masyarakat luas, para simpatisan dan calon wali santri Ma’had Al-Zaytun seyogyanya mampu bersikap kritis dan waspada dalam mencermati pendirian lembaga maupun penyelenggaraan pesantren Al-Zaytun ini, yang secara faktual telah menunjukkan bahwa para pengelola dan tokoh Ma’had Al-Zaytun, tidak terkecuali Abu Toto Abdus Salam (AS) Panji Gumilang, ternyata bukanlah tokoh pendidik dan belum pernah pula memiliki bukti keberhasilan maupun pengalaman atau jam terbang dalam mengelola dan menyelenggarakan pesantren, sekalipun untuk ukuran sebuah pesantren yang kecil dan sederhana, kecuali keberhasilan dalam mengorganisir gerakan bawah tanah NII (Negara Islam Indonesia) yang penuh misteri dan kontroversi.

Namun mengapa masyarakat luas dan bahkan beberapa tokoh pesantren menjadi tumpul daya kritisnya melihat kenyataan yang ada? Para tokoh pendiri dan pengelola Ma’had Al-Zaytun sama sekali tidak punya pengalaman, kecuali bukti megahnya fisik dan lengkapnya prasarana pesantren serta setumpuk rencana, target dan janji. Bahkan di antara masyarakat intelek seperti ICMI malah secara latah --bahkan salah kaprah dan terburu-buru-- menjadikan Ma’had Al-Zaytun sebagai contoh model bahkan bentuk ideal penyelenggaraan Pesantren Terpadu.
Kesaksian (Pengakuan) Sakinah bulan April tahun 2000
Dengan diantar oleh anggota keluarga yang berdomisili di Jakarta, seorang Ibu datang dari Solo disertai putrinya (Sakinah), mahasiswi ITB semester VIII, yang konon terlibat dengan kelompok NII KW-9, sehingga sempat menghentikan kuliahnya.

Di awal dialog, Sakinah, nama mahasiswi tersebut, sama sekali tak mau bicara. Sesekali keluar suara dari mulutnya berupa komentar singkat dan permintaan mengulang dari apa yang disampaikan penulis.

Penulis membuka dialog dengan menceritakan sejarah perjalanan gerakan Islam di Indonesia mulai tahun 1977 kasus Komando Jihad hingga era kepartaian tahun 1999. Serta tak luput pula menceritakan tentang munculnya berbagai aliran sempalan Islam di Indonesia.

Keterbukaan Sakinah, baru terkuak setelah penulis selesai bercerita. Sakinah mengawali dengan pertanyaan “Bagaimana penilaian Bapak tentang NII?”

Dan akhirnya, ganti penulis yang mulai bertanya langsung: “Siapa Mas’ulnya, kapan berbai’atnya, dan apa yang membuat anda tertarik?”

Jawab Sakinah: “Saya ingin hidup dalam Daulah Islam.”

Penulis pun langsung bertanya, "dari mana anda memulainya?"

“Melalui Madinah” jawabnya.

"Maksudnya Madinah itu apa?" tanya penulis.

Jawab Sakinah: “Madinah itu ya lembaga NII, begitu kata Mas’ul kami, dasarnya sejarah dan proklamasi NII.”

Kemudian penulis berikan penjelasan tentang Marhalah (tahapan) dakwah Rasulullah SAW, sejak awal hingga hijrah ke Madinah, serta karakter kemadinahan dan kemasyarakatan Nabi dan Shahabat. Lantas penulis bertanya kepada Sakinah: "Adakah kesamaan karakter ke-Madinahan Nabi SAW dengan Madinahnya NII?"

Sakinah menjawab: “Ya, tidak sama, karena saat ini masih kahfi, dan kondisi Madinah sedang diusahakan.”

Baiklah, kalau saat ini masih kahfi, saya bertanya lagi: "Apa dan bagaimana keislaman Nabi dan Shahabatnya ketika mereka masih berada di Makkah? Apa yang diajarkan Nabi di saat awal setiap orang yang Musyahadah (masuk islam)? Apa yang pertama kali dilakukan Nabi SAW kepada para shahabatnya itu dengan menetapkan kewajiban infak, iddikhor, tazkiyah dan lain sebagainya sebagaimana yang dilakukan kelompok NII Abu Toto kepadamu?"

Sakinah menjawab: "Saya belum tahu sejarah itu, dan saya pikir ini kan perjuangan untuk Islam, jadi untuk membangun Madinah saya kira memang sangat membutuhkan banyak sekali dana."

Penulis bertanya lagi, "Lantas, bagaimana dengan tanggung jawab missi Islam, melepaskan dan mengeluarkan ummat dari kejahiliyyahan kepada ke-Islaman, selain itu apakah anda tahu dan mendapatkan laporan dari dana yang didapatkan serta pendistribusiannya, karena sebagai seorang intelek, anda kan harus juga bersikap kritis dengan masalah masalah yang seperti ini?"

Sakinah masih bisa juga menjawab, namun sepertinya sudah kurang yakin: “Menurut mereka, bila Daulah sudah tegak, semuanya akan beres. Dan soal dana, rasanya saya baru sadar, setahu saya belum ada yang bertanya seperti itu.”

Ketika penulis mempertanyakan kembali masalah missi Islam: "Kalau harus menunggu terlebih dahulu tegaknya Daulah, baru pembinaan syari’at dan akhlaq dilaksanakan, bagaimana kalau seandainya ia meninggal, sedangkan ia tidak shalat, masih suka bohong dan banyak meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lain?"

Sakinah tertegun, dan malah bertanya: "Jadi, yang seharusnya bagaimana?"

Penulis balik bertanya: "Kamu sendiri masih shalat? Dan kenapa masih memakai jilbab?"

Sakinah menjawab: “Sebenarnya sih diperbolehkan untuk tidak shalat dan melepas jilbab, tapi perasaan saya kok tidak pantas gitu, jadi saya tetap shalat dan pakai jilbab. Masa mengaku muslim, tidak shalat dan nggak pakai jilbab, nggak enak rasanya."

Akhirnya penulis jelaskan secara panjang lebar, dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut di kantor, dan dilanjutkan oleh kawan-kawan yang lain selama satu minggu, Alhamdulillah akhirnya Sakinah terlepas dari jerat NII KW-9, dan bahkan mampu mempengaruhi dan mengajak seniornya untuk keluar dari NII KW-9. Keberaniannya muncul dan keyakinannya semakin kuat bahwa NII KW-9 itu sesat dan menyesatkan. Ketika para mantan seniornya diajak berdiskusi lebih lanjut dan hendak dipertemukan dengan kami, mereka semuanya menolak atau menghindar.

Dari cerita Sakinah selama sekitar dua tahun terlibat dalam NII KW-9, sudah lupa berapa banyak dana yang diserahkan kepada NII KW-9, namun untuk bulan-bulan terakhir ia diharuskan menyerahkan dana sebesar 4 juta rupiah, untuk itulah ia tidak sempat lagi kuliah, karena sibuk berdagang apa saja selain juga berdakwah merekrut anggota baru.

Di bawah ini beberapa doktrin NII yang terbilang agak lain yang sempat direkam, antara lain:

--Pengulangan sejarah akan terjadi, seperti yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf As.

--Tujuh tahun masa panen dan tujuh tahun masa paceklik. Untuk itu ummat selama tujuh tahun harus menyerahkan hartanya kepada Imam NII, sebagai pesiapan untuk masa paceklik setelah tujuh tahun kemudian. Dengan tanpa ada ketetapan sejak kapan dimulainya. Dan tidak pula ada yang mempertanyakannya.

--Sejarah kisah Ashabul Kahfi akan terulang, suatu saat nanti.

--Seluruh dana yang berhasil dikumpulkan akan dikelola melalui ma’had Al-Zaytun.

--Ma’had Al-Zaytun yang sudah berdiri tegak di berbagai daerah adalah bentuk dan wujud konkret amal usaha NII dalam merintis tegaknya Madinah dan Daulah NII.
Pernyataan KH Miftah Farid (Ketua MUI Jawa Barat)

Berdasarkan penuturan singkat beliau yang sudah pernah melakukan konfirmasi langsung dengan AS Panji Gumilang alias Abu Toto, berkenaan dengan isu adanya hubungan antara Syaikh al-Ma’had Al-Zaytun dengan NII, maka AS Panji Gumilang membenarkan adanya isu tersebut serta mengakui dirinya sebagai Komandan I kelompok pecahan DI/TII atau bagian dari gerakan NII yang melakukan penggalangan dana melalui program Infaq wajib, namun tidak dengan cara-cara tekanan dan ancaman. Dan kalaupun itu terjadi, maka itu hanya ekses. Dan KH Miftah Farid juga menuturkan saat membicarakan masalah pendanaan pembangunan Ma’had Al Zaytun ini dengan Bapak Atang Ruswita, ternyata beliaupun (Pak Atang Ruswita sendiri) malah mengutip keheranan pak Gubernur Jawa Barat Nuriana yang mengaku bingung dengan besarnya pesantren dan tidak mengetahui asal-usul sumber dana. Namun Pak Atang Ruswita sendiri sempat menanyakan langsung masalah ini kepada AS Panji Gumilang, jawabnya: “Ummat Islam Indonesia kan 200 juta, masa tidak dapat menyediakan dana untuk sebuah pesantren seperti ini.”
Kesaksian Bapak Mohammad Soebari, Mantan Kabag Keuangan DPR RI dan tokoh elite KW-9 yang ditahan tahun 1980 dan bebas tahun 1983.

Saya mengenal baik tentang siapa itu Abu Toto, yang sekarang bernama AS Panji Gumilang dan juga menjadi syaikh atau pimpinan Ma’had Al-Zaytun. Dulunya, dia (AS Panji Gumilang) mengaku bernama Prawoto dan dibai’at sebagai Imarah di wilayah IX oleh Seno alias Basyar pada tahun 1978. Ketika kita semua ditangkap oleh militer (Ali Murtopo) tahun 1980, si Toto ini kabur ke Sabah sambil membawa lari uang jama’ah sebayak 2 Milliar rupiah. Dan setelah itu tidak ada kabar beritanya lagi, namun tiba-tiba muncul kembali sekitar tahun 1988-1989 dan bergabung dengan pak Karim Hasan yang saat itu secara ideologis sudah tidak lagi sejalan dengan saya.

Ketika pak Karim meninggal tahun 1992, seingat saya keberadaan Toto tidak terlihat di sana. Bahkan karena menurut keluarga pak Karim, jenazah tidak boleh dan tidak perlu dimandikan karena menurut mereka beliau mati dalam keadaan syahid, maka saya pun akhirnya tidak ikut menshalati. Meskipun sesungguhnya saya sendiri tahu bahwa pak Karim ini sudah melakukan penyimpangan aqidah dan ubudiyah yang fatal melalui kiprahnya di Lembaga Kerasulan, dan saya pun menyaksikan akhir dari hidupnya yang tragis yang tidak perlu disebutkan disini.

Sayapun sudah sempat datang melihat Al-Zaytun dari dekat, namun ketika saya tanyakan dan saya nyatakan keinginan untuk bertemu Toto, dijawab oleh mereka syaikh lagi tidak ada di tempat. Menurut hemat saya, masalah Al-Zaytun ini memang harus segera diklarifikasi oleh banyak pihak, sebelum dampak dan korban yang jatuh makin banyak serta meluas. Dan secara keilmuan saya sangat setuju serta mendukung jika ada upaya-upaya transparansi ataupun klarifikasi yang berkaitan dengan Toto, Al-Zaytun, KW-9 dan sekaligus NII dengan segala kaitan atau mata rantai sejarahnya dalam masyarakat Indonesia.

Yang telah jelas dan pasti, tidak perlu disangsikan lagi AS Panji Gumilang syaikh ma’had Al-Zaytun sekarang ini adalah Toto atau Prawoto yang dahulunya bersama-sama dengan kami di KW-9 sejak tahun 1978 dan ketika kami ditangkap, diapun lari ke Sabah Malaysia, lantas selanjutnya kembali lagi tahun 1988 bergabung dengan Lembaga Kerasulan, dan setelah pak Karim meninggal, konon dialah yang memimpin KW-9 yang menghebohkan sampai sekarang ini, selebihnya wallahu a’lam.
Siapa AS Panji Gumilang alias Abu Toto?

Pada kesempatan wawancara dengan Harian Pelita saat berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun kurang lebih satu bulan sebelum diresmikan oleh BJ Habibie (27 Agustus 1999), AS (Abdus Salam) Panji Gumilang sempat menyatakan dirinya adalah pria kelahiran Indramayu.

Dalam kesempatan lain, kepada sahabatnya di Rabithah Alam Islami dahulu (Ustadz Rani Yunsih, kini almarhum) Abdus Salam Rasyidi alias Abu Toto mengaku sebagai pria kelahiran Banten.

Sedangkan pada kesempatan BKSPPI mengadakan musyawarah di Ma’had Al-Zaytun tahun 1999, Kyai Khalil Ridlwan sempat menanyakan nama asli, alamat di Jakarta dan nomor HP AS Panji Gumilang, ia hanya menjawab: ”… nanti juga tahu.” Padahal Abu Toto dan Kyai Khalil Ridlwan adalah teman sekelas (satu angkatan) ketika menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Berdasarkan pengakuan (testimoni) beberapa nama yang dicantumkan Al Chaidar dalam bukunya, yang semuanya mengaku pernah terlibat dan bersama-sama dengan Abu Toto, Abu Ma’ariq atau Toto Salam dalam gerakan NII KW-9, termasuk Al Chaidar sendiri, sebenarnya telah cukup sebagai dasar yang kuat untuk memastikan bahwa yang bernama AS Panji Gumilang yang kini menjadi Syaikh Ma’had Al-Zaytun dan foto close up maupun postur penuh dirinya yang terpampang di berbagai media massa, itulah Abu Toto, atau Toto Salam atau Abu Ma’ariq, Imam KW-9 yang dimaksud dalam testimoni mereka.

Demikian pula dengan Ma’had Al-Zaytun, ma’had itulah salah satu pembangunan yang dimaksudkan, selain untuk pembangunan asykariyah (ketentaraan dan persenjataan) dan lembaga formal struktural NII, dalam gerakan pengumpulan dana, melalui istilah harakat Qurban, harakat Ramadlon, Infaq, Shadaqah, Qiradl, Istighfar dan lain sebagainya.

Berdasarkan hasil investigasi Penulis ke Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, maupun investigasi ke kampung halaman isterinya di Menes (Pandeglang, Banten) yang telah ditinggalkan mereka sejak tahun 1994, identitas asli AS Panji Gumilang adalah sebagai berikut:

Nama asli:
Abdul Salam bin Rasyidi
2. Tempat/tanggal lahir: Desa Dukun, Sembung Anyar, Gresik, 27 Juli 1946.
3. Pendidikan:
--SR (Sekolah Rakyat), Lulus Tahun 1958/9.
--Siswa Pondok Modern Gontor, masuk Tahun 1961.
--Mhs. Fak. Adab IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
4. Istri: Khotimah Binti E. Said alias Maysaroh
5. Lahir: Menes, 25 April 1944.
6. Lulus:
--Tsanawiyah Mathla’ul Anwar th1963.
--Pegawai Negeri, sebagai Guru di Mathla’ul Anwar)
7. Anak-anak: Imam Prawoto, Wushtho, Iwan, Anis dan 2 adiknya.

Nama belakang ‘Prawoto’ dari nama Imam Prawoto diambil dari nama samaran Abdus Salam saat di-bai’at atas permintaan sendiri dan kemudian dikenal dengan panggilan Abu Toto. Imam Prawoto kini menjabat sebagai sekretaris Yayasan Pesantren Indonesia Ma’had Al-Zaytun. Sedangkan Anis bt Abdul Salam kini juga menjadi Guru di Ma’had Al Zaytun.
8. Pengalaman Organisasi dan Sepak Terjang Abu Toto
• Anggota Mathla'ul Anwar dan menjadi guru 'Aliyah sejak tahun 1969/70 di Menes. Dan anggota HMI sejak di IAIN Ciputat.
• Tahun 1971 s/d 1978 Anggota/Ketua GPI Cabang Menes, Pandeglang, Banten.
Tahun 1978 dibai'at menjadi anggota NII KW-9 sebagai mas'ul Imarah (Pendidikan), dan berganti nama menjadi Prawoto.
• Tahun 1978 Ditahan Laksusda Bandung (8 bulan), kasus GPI (SU MPR) dan keluar pada tahun yang sama.
• Tahun 1979 meminta surat tugas dakwah sebagai muballigh Rabithah Alam Islami ke negeri Sabah Malaysia atas rekomendasi Pak Natsir Alm. Dan non aktif dari organisasi Mathla'ul Anwar.
• Tahun 1981-1987 buron dan sekaligus menjadi Da'i/Muballigh di Sabah sambil membawa lari dana (kas) NII sebesar Rp 2 miliar. Pada waktu penggerebegan di rumahnya ditemukan dokumen Marxisme cetakan Libya serta buku DaS Capital. Maka sejak saat itu oleh aparat setempat, Abdul Salam dianggap telah terlibat dalam gerakan PKI.
• Tahun 1987 kembali dari Sabah Malaysia, bergabung kembali dengan NII KW-9/LK (Lembaga Kerasulan) daerah Menes, Pandeglang (Banten), dengan nama panggilan Syamsul Alam atau Abu Toto alias Toto Salam.
• Tahun 1989, langsung di bawah struktur Haji Karim, Komandan KW-9 (dan bertugas serta bertindak sebagai kepercayaan H Karim).
• Tahun 1990, diangkat sebagai orang ke-3 struktur KW-9 membidangi urusan penggalian dana umat.
Tahun 1993, mengangkat diri sebagai Komandan tertinggi KW-9. Nama panggilan (gelar) diganti Abu Toto atau Abu Ma'arif (Abu Ma'ariq) dan mulai membuat aturan serta paham atau ta'wil baru terhadap fiqh maupun tafsir dan syari'at melalui qoror-qoror. Pada tahun ini memberlakukan program pembuatan KTP NII yang dihargakan sebesar Rp 500 ribu untuk setiap warga, namun sampai sekarang tidak ada realisasinya sedang uang yang telah disetor tidak ada kabar beritanya.
• Tahun 1994 untuk kedua kalinya digerebeg aparat Kodim, namun Toto Abdus Salam lolos dari penangkapan, sejak saat itu rumahnya di Menes ditinggalkan sampai sekarang dalam keadaan rusak, namun tetap dijaga oleh salah seorang keponakannya.
• Tahun 1996, diangkat oleh Adah Djaelani, menggantikan posisi ke Imamahan dirinya dalam struktur NII (sekalipun Toto pada dasarnya sama sekali tidak memiliki latar belakang garis maupun latar kesejarahan pada struktur NII)
• Tahun 1997, mencanangkan pembangunan Ma'had Al-Zaytun. Dan berganti gelar (Abdus Salam) AS Panji Gumilang, nama Abu Toto dighaibkan.
• Tahun 1999, menjadi Syaikh Al Ma'had Al-Zaytun. Tahun 2001, menempatkan gelar Prof dan Ph.D di muka dan di belakang nama AS Panji Gumilang

Sejauh penulusuran Penulis terhadap Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang di tanah kelahirannya, Gresik, tepatnya di kelurahan Sembung Anyar, Abu Toto Abdus Salam, semenjak ia menjadi Syaikh Al-Ma'had Al-Zaytun di Haurgeulis Indramayu, masyarakat Sembung Anyar memanggilnya sebagai Syaikh.

Sedang di kelurahan tersebut nama H. Imam Rasyidi, orangtua Abu Toto (sudah meninggal) sangat dikenal masyarakat secara luas hingga tukang ojek. Karena nama H. Imam Rosyidi diabadikan dalam wujud nama sebuah jalan desa yang terletak tepat membentang di depan rumah mendiang ayahnya tersebut yang biaya pembangunannya, menurut penuturan Abdul Wahib Rasyidi, adik kandung Abdus Salam, yang juga Kepala Desa Sembung Anyar tersebut, seluruhnya berasal dan Abu Toto Abdus Salam (AS) Panji Gumilang, Syaikh Al-Ma'had Al-Zaytun.

Disamping itu, di desanya itu Abu Toto juga membangun tiga buah Masjid serta satu kantor Kelurahan yang dijabat adik kandungnya dan juga membangun sebuah Pondok Pesantren yang cukup besar, yang menggelar pendidikan dari TPA hingga Ma'had 'Ali (Pendidikan Tinggi).

Rumah kediaman orangtua Abu Toto Abdus Salam sendiri tampak sederhana, dan keluarganya pun cukup bersahaja. Namun yang pasti, Abdul Wahib Rasyidi adik kandung Abu Toto Abdus Salam, adalah Kepala Desa Sembung Anyar, sedangkan yang menjadi Bupati Gresik saat ini, Rabbah Mahfudhz Ma'shum, ternyata terhitung masih saudara sepupu Abu Toto.

Menurut penuturan Bapak Efendi Yusuf, yang masih terhitung kakek atau Uwak dari istri Abu Toto Abdus Salam (Khatimah alias Maysaroh nama sekarang), yang sekaligus sebagai tetangga sebelah rumah dan yang menikahkan Khatimah, cucu keponakannya itu dengan Abu Toto Abdus Salam tahun 1969. Sekitar tahun 1972 H. Abdul Karim Hasan sering berdakwah di Menes, dan Abdus Salam adalah termasuk sebagai jama'ahnya, sedang Efendy Yusuf yang terhitung uwak atau kakek isterinya sendiri saat itu menolak ketika diminta bai'at dan memperbaharui Syahadah di depan H Abdul Karim Hasan dengan meminta dalil yang bisa dipertanggungjawabkan, melalui sebuah pertanyaan: “Apakah Fathimah putri Rasulullah SAW pemah dibai'at oleh ayahnya sendiri untuk mengesahkan ke-Islamannya?”

Sumber :"Membongkar gerakan sesat NII Al-Zaytun" oleh Umar Abduh